Jumat, 20 April 2018

HUKUM MAYIT TERUS MENGELUARKAN DARAH

KESIMPULAN TEAM DHF
CARA MERAWAT MAYYIT KORBAN TABRAKAN
==========================================

✅PERTANYAAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

Titipan:

Bagaimana cara merawat mayyit korban tabrakan, yg mana dari anggauta badan nya keluar darah terus menerus..???

Bolehkah melakukan tindakan dgn cara membalut luka yg kluar darah tersbut dgn pelastik agar tidak keluar darah lagi...???

Atas jawabn nya terimaksih jazakulllahi khoiran bi ahsanil jaza'

والسلام عليكم

✅JAWABAN

Wa'alaikum salam

Jawaban sub A:
Kewajiban kita masih tetap sama dengan janazah lainnya, mengkafani, mensholati dan menguburkannya, selama masih bisa di mandikan maka wajib di mandikan kecuali jika seandainya di mandikan kulit jenazah tersebut akan mengelupas, sperti korban kebakaran maka di ganti dengan tayammum.

Adapun apabila
mayit akibat kecelakan itu trs keluar darah dr lukanya stelah di mandikan sblm di kafani,mka wajib di bersihkan (disucikan, darahnya) saja tanpa perlu mengulang mandinya, tetapi wajib di tutup dngn kain atau apa saja yg se kiranya dpt menahan darah keluar,dn sah di shalatkan,

Sebagaimana di jelaskan oleh imam Imam Syams Al-Din Muhammad Ibnu Ahmad Al-Ramli Al-Shaghir ( م ر)
Hal senada dikemukakan oleh Imam Syihab Al-Din Ibnu Qasim Al-Abadi ( س م).

Beliau menyatakan bahwa: jika keadaan mayit mengeluarkan darah secara terus menerus, maka hukum mayit tersebut sama dengan orang hidup yang berhadas secara terus menerus (beser) yang mana hukum mandi dan shalatnya dinyatakan sah dengan ketentuan sebagai berikut:
• Melaksanakan mandi (orang beser) atau dimandikan (mayat).
• Setelah dimandikan anggauta tubuh yang mengeluarkan darah dibalut dengan kapas atau dengan sesuatu yang bisa menyumbat keluarnya darah untuk kemudian segera melaksanakan sahalat(orang beser) atau dishalatkan (mayat). 

◾adapun jika sudah melakukan ikhtiayr dgn cara menyumbatnya ternyata masih keluar darah maka sah sholat nya.

◾Sedangkan apabila darah atw najis itu keluarnya stlh di kafani/di bungkus,maka terjadi khilafiyah di kalangan ulama'

1⃣Pendapat pertama:
Tidak wajib di sucikan lagi

2⃣Pendapat yg kedua:
Sebagaiman di kemukakan imam al baghowi, darah yg kluar sesudah di mandikan dan di kafani
  masih wajib di bersihkan.
(Baru boleh di sholati)

Sub B:
Boleh kah di sbat dgn plastik..?

Boleh
Justru memng yg harus di lakukan adalah yg demikian, guna menyumbat bagian yg trus menerus keluar darah tersebut sekalipun dgn pelastik.

📚REFRENSI

📔Al Bajuri 1/ 242 - 243

(وَيَلْزَمُ) عَلَى طِرِيْقِ فَرْضِ الْكِفَايَةِ (فِي الْمَيِّتِ)... الْمُسْلِمِ غَيْرِ الْمُحْرِمِ وَالشَّهِيْدِ (أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ غُسْلُهُ وَتَكْفِيْنُهُ وَالصَّلاَةُ عَلَيْهِ وَدَفْنُهُ ) (قَوْلُهُ غُسْلُهُ) أَيْ أَوْ بَدُلُهُ وَهُوَ التَّيَمُّمُ كَمَا لَوْ حُرِقَ بِالنَّارِ وَكَانَ لَوْ غُسِلَ تَهَرَّى .

📔Asna alMathoolib I/305

وَإِنْ كان بِحَيْثُ لو غُسِّلَ تَهَرَّى لِحَرْقٍ أو نَحْوِهِ يُمِّمَ بَدَلَ الْغُسْلِ لِعُسْرِهِ

📔kitab Fat_hul Mu'in / I'anah juz II halaman 110 

ولو خرج منه بعد الغسل نجس لم ينقض الطهر بل تجب إزالته فقط إن خرج قبل التكفين لا بعده
( قوله ولو خرج منه ) أي من الميت ولو من السبيلين ( قوله ولم ينقض الطهر ) أي لم يبطله ( قوله بل تجب إزالته ) أي النجس الخارج ( وقوله فقط ) أي من غير إعادة غسله وذلك لسقوط الفرض بما وجد وحصول النظافة بإزالة الخارج ( قوله إن خرج قبل التكفين لا بعده ) هكذا عبارة شيخه في فتح الجواد إلا أنه أحالها فيه على إفتاء البغوي وجزم في التحفة بوجوبها أيضا بعد التكفين ونصها مع الأصل ولو خرج بعده أي الغسل أي وقبل الإدراج في الكفن نجس ولو من الفرج وجب إزالته تنظيفا له فقط لأن الفرض قد سقط بما وجد

حاشية البجيرمي على المنهاج . الجز 4. صفحة 380.
فرع لو لم يمكن قطع الدم الخارج من الميت بغسله صح غسله وصحت الصلاة عليه لأن غايته أنه كالحي السلس وهو تصح صلاته فكذا الصلاة عليه م ر سم . وقضية التشبيه بالسلس وجوب حشو محل الدم بنحو قطن وعصبه عقب الغسل والمبادرة بالصلاة عليه بعده حتى لو أخر لا لمصلحة الصلاة وجب إعادة ما ذكر وينبغي أن من المصلحة كثرة المصلين كما في تأخير السلس بإجابة المؤذن وانتظار الجماعة >

نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج . الجز 8. صفحة  155.
) فرع ( لو لم يمكن قطع الدم الخارج من الميت بغسله صح غسله وصحت الصلاة عليه ؛ لأن غايته أنه كالحي السلس وهو تصح صلاته فكذا الصلاة عليه م ر ا هـ

: فتح المعين . الجز 2. صفحة  126.
ولو خرج منه بعد الغسل نجس لم ينقض الطهر، بل تجب إزالته فقط إن خرج قبل التكفين، لا بعده.

Hasyiah jamal 2/148 maktabah syamilah:

ولو خرج بعده) أي الغسل (نجس وجب إزالته فقط) وإن خرج من الفرج لسقوط الفرض بما وجد
_________
(قوله ولو خرج بعده نجس) أي ولو بعد الصلاة وقبل الدفن

bughiyah al mustarsyidiin_ hal. 92

مسئلة ي) تجب ازالة النجاسة غبر المعفو عنها عن الميت سواء الاجنبية والخارجية منه قبل ادراجه فى الكفن اتفقا ولو من غير السبلين، وما بعده فى الاصح كغسل الكفن اللمث بها ، ولا تصح الصلاة عليه حينئذ مع وجود الماء المزيل لها

وقال البغوى لاتجب الازالة  بعد الاندراج مطلقا وان تضمخ الكفن اهـ

Krn kondisinya darurat
Maka langkah yg tepat

قلت ورجحه فى الامداد وقال باعشن ولو لم يمكن قطع الخارج من الميت صح غسله والصلاة عليه لكن يجب فهوالحشو والغصب على محل النجاسة والمبادرة بالصلاة عليه كالسلس اهـ

Wallahu a'lam bish_showab.
diskusihukumfiqh212.blogspot.com
hikmahdhf.blogspot.com

Kamis, 19 April 2018

HUKUM MENDO,AKAN KAFIR.

Dokument team DHF
HUKUM MENDO'AKAN NON MUSLIM (PART 2)
◼◼◼◼◼◼◼◼◼

بسم الله الرحمن الرحيم
Terkait hukum mendoakan non muslim (kafir) ada empat rincian

1⃣pertama:

Memohonkan Ampunan dan Rahmat
Para ulama sepakat bahwa memohon ampunan dan rahmat bagi orang kafir sepeninggal mereka merupakan hal yang dilarang (HARAM).

➖ imam nawawi
Dalam kitab al majmu' syarah al.muhadzdzab 5/120: mengatakan bahwa
larangan ini berdasarkan dalil-dalil sharih (jelas) dari al-Qur’an, Sunnah dan ijma’.

➖Allah ta’ala berfirman:
“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.

Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu.

Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya.

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (QS. At-Taubah: 113-114).

📖Dalam ayat lain Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (QS. At-Taubah: 84).


◾Oleh karena itu, tidak boleh bagi orang muslim untuk memohonkan ampunan, rahmat, keberkahan dan segala bentuk doa yang bersifat kebaikan akhirat, sebab do’a ini hanya diperuntukkan bagi orang beriman.
Sekalipun mayyit tersebut adalah keluarganya.

2⃣Kondisi kedua:
➖ Mendoakan Agar Mendapat Hidayah.

Mendo’akan orang kafir secara umum agar mendapat hidayah merupakan hal yang dibolehkan.
➖Namun bagi orang kafir yang tidak memerangi atau memusuhi kaum muslimin (bukan kafir harbiy) maka terhadap mereka lebih diutamakan. Karena ini termasuk upaya untuk menyelamatkan mereka dari api neraka, menunjukkan jalan ketaatan kepada Allah.

Inilah yang harus diusahakan oleh seorang muslim sebagaimana contoh dari Rasulullah dalam riwayat sahabat Anas bin Malik disebutkan bahwa dahulu ada seorang anak Yahudi yang senantiasa melayani (membantu) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian ia sakit. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendatanginya untuk menjenguknya, lalu beliau duduk di dekat kepalanya, kemudian berkata:” Masuk Islam-lah!” Maka anak Yahudi itu melihat ke arah ayahnya yang ada di dekatnya, maka ayahnya berkata: “Taatilah Abul Qasim (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam).” Maka anak itu pun masuk Islam. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar seraya bersabda:

الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَنْقَذَهُ مِنْ النَّارِ.

“Segela puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka.” (HR. Bukhari)

Adapun dalil yang membolehkan mendoakan orang kafir agar mendapat hidayah. Sebagai berikut:
Pertama: Riwayat dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah mendoakan ibu Abu Hurairah:
اللهُمَّ اهْدِ أُمَّ أَبِي هُرَيْرَةَ
“Ya Allah, berilah hidayah kepada ibu Abu Hurairah.” (HR. Muslim)

Kedua: Riwayat bahwa Thufail bin ‘Amr ad-Dausi dan para Shahabatnya datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu mereka berkata: “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sesugguhnya suku Daus ingkar dan enggan (masuk Islam), maka do’akanlah keburukan atas mereka.” Ada yang mengatakan: “Celakalah Daus” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdo’a:

اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَأْتِ بِهِمْ

”Ya Allah berilah hidayah kepada suku Daus dan datangkanlah mereka (dalam keadaan Islam).”

Ketiga: Riwayat dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya para Shahabat berkata:

يَا رَسُوْلَ الله ! أحرقتنا نِبَال ثَقِيْف ، فَادْعُ اللهَ عَلَيْهِمْ. فَقَالَ : اللّهُمَّ اهْدِ ثَقِيْفاً

“Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, panah-panah Bani Tsaqif menyerang kami, do’akanlah keburukan atas mereka.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Ya Allah berilah hidayah kepada Bani Tsaqif. ” (HR. Tirmidzi dengan sanad shahih)

Keempat: Riwayat dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah bersabda:

اللَهُمَّ أَعِزِّ الإِسْلاَمَ بِأَحَبِّ هَذَيْنِ الرَجُلَيْنِ إِلَيْكَ، بِأَبِيْ جَهْلٍ أَوْ بِعُمَرِ بنْ الخَطَّابِ، فَكَانَ أَحَبَّهُمَا إِلىَ اللهِ عُمَرُ بنْ الخَطَّابِ

“Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang engkau lebih cintai; Abu Jahal ataukah Umar bin Khattab, maka orang yang lebih dicintai di antara keduanya adalah Umar bin Khattab.” (HR. Ahmad)
Dua dalil pertama menjelaskan akan dibolehkannya mendoakan orang kafir yang memusuhi dan memerangi kaum muslimin agar mendapat hidayah.

3⃣kondisi yg ke tiga:
Mendo’akan Keburukan dan Kehancuran.

➖Mendoakan keburukan dan kehancuran bagi orang kafir boleh dilakukan ketika mereka memerangi dan memusuhi kaum muslimin.

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa di dalam Al-Qur’an Allah telah menjelaskan di banyak tempat bahwa ada di antara para Nabi yang mendo’akan keburukan bagi orang kafir.

Begitupula Imam Bukhari dalam shahihnya membuat bab berjudul: Mendo’akan keburukan bagi orang musyrik. Dengan menyebutkan beberapa riwayat:

Pertama: Rasulullah bersabda: “

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَيْهِمْ بِسَبْعٍ كَسَبْعِ يُوسُفَ

“Ya Allah, tolonglah aku atas mereka dengan tujuh (tahun) sebagaimana tujuh (tahun paceklik) Yusuf.” (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim)

Kedua: Do’a Rasulullah: “Ya Allah, Binasakanlah Abu Jahal.” (HR. Bukhari Muslim)
Ketiga: Do’a Rasulullah:

اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الكِتَابِ، سَرِيعَ الحِسَابِ، اللَّهُمَّ اهْزِمِ الأَحْزَابَ، اللَّهُمَّ اهْزِمْهُمْ وَزَلْزِلْهُمْ

“Ya Allah Yang menurunkan kitab suci dan cepat menghitung (meminta pertanggung jawaban atas perbuatan hamba-Nya), ya Allah kalahkanlah golongan-golongan musuh, ya Allah kalahkanlah mereka dan goncangkanlah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mengomentari riwayat-riwayat tentang doa Rasulullah kepada orang kafir yang terkadang mendoakan kebaikan dan terkadang mendoakan keburukan, maka Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan:

“Rasulullah terkadang mendoakan keburukan bagi mereka dan terkadang mendoakan kebaikan baginya, maka kondisi pertama berlaku ketika kekuatan orang kafir besar dan merajalelanya gangguan mereka. Sedangkan kondisi kedua berlaku ketika kaum muslimin aman dari keburukan mereka dan diharapkannya simpati mereka sebagaimana kisah Daus.” (fathul Baari, Ibnu Hajar al-Asqalani: 6/108)

📝Meskipun dibolehkan mendoakan keburukan dan kehancuran bagi orang kafir, namun tetap tidak dibolehkan mendoakan agar mereka mati dalam keadaan kafir, atau mendoakan agar mereka tidak mendapat hidayah. Sebab hal ini menyelisihi yang diinginkan Allah agar mereka masuk Islam dan mendakwahi mereka, begitupula hal ini sama dengan meminta agar mereka tetap dalam kekafiran dan mati di atasnya, maka tidak boleh ridha dengan sesuatu yang tidak diridhai Allah. Yang membedakan dengan doa agar mereka binasa adalah agar terhindari dari keburukan mereka. (Al-Furuuq, Al-Qarrofi: 4/296).

4⃣Kondisi keempat: Mendo’akan untuk urusan duniawi, sperti rizqi, kesehatan dll.

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum mendo’akan orang kafir (yang tidak memerangi atau memusuhi kaum muslimin) pendapat yang membolehkan hal ini bertujuan agar doa melembutkan hati dan menarik simpati untuk menerima Islam.





📝WALHASIL:

Mendoakan yang diharamkan untuk orang kafir adalah doa memohonkan ampunan atas mereka bila telah mati dalam kekafirannya. Ini yang disepakati oleh para ulama.

◼Adapun mendoakan orang kafir selain permohonan ampunan atas dosa-dosanya  setelah kematiannya,

ada yang disepakati kebolehannya dan ada yang pula dikhilafkan oleh para ulama.

Berikut rinciaannya.

1⃣➖      Doa agar diberikan hidayah.

Ulama sepakat membolehkan mendoakan orang kafir agar diberikan hidayah petunjuk. Hal ini berdasarkan beberapa dalil diantaranya :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَدِمَ الطُّفَيْلُ وَأَصْحَابُهُ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ دَوْسًا قَدْ كَفَرَتْ وَأَبَتْ، فَادْعُ اللهَ عَلَيْهَا فَقِيلَ: هَلَكَتْ دَوْسٌ فَقَالَ: اللهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَائْتِ بِهِمْ
Abu Hurairah -radliallahu ‘anhu- mengatakan: (Suatu hari) At-Thufail dan para sahabatnya datang, mereka mengatakan: “ya Rasulullah, Kabilah Daus benar-benar telah kufur dan menolak (dakwah Islam), maka doakanlah keburukan untuk mereka ! Maka ada yg mengatakan: “Mampuslah kabilah Daus”. Tapi beliau mengatakan: “Ya Allah, berikanlah hidayah kepada Kabilah Daus, dan datangkanlah mereka kepadaku.” (Mutafaqqun ‘alaih)

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ
بِأَحَبِّ هَذَيْنِ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ بِأَبِي جَهْلٍ أَوْ بِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ
Dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhu bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu’alaih wasallam berdoa: “Ya Allah, muliakanlah Islam dengan sebab kecintaan dua lelaki kepadaMu, yaitu dengan sebab ‘Amr bin Hisyam (Abu Jahl) atau dengan sebab ‘Umar bin Khattab.” (HR. Tirmidzi )


2⃣➖    Doa kebaikan urusan dunia.
Adapun mendoakan untuk kebaikan urusan dunia non muslim semisal kesehatan badan, rezeki atau doa belasungkawa atas musibah yang menimpa, ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama berpendapat tidka dibolehkan karena dipandang sebagai bentuk loyalitas kepada orang kafir yang terlarang.

Adapun mayoritas ulama berpendapat tidak mengapa mendoakan kebaikan urusan dunia kepada orang kafir. Karena tidak masuk dalam larangan pada ayat diatas. Berkata al imam An Nawawi[2] rahimahullah :

لكن يجوز ان يدعي بالهداية وصحة البدن والعافية وشبه ذالك وروينا في كتاب ابن السني عن انس عنه قال استسقي النبي صلى الله عليه وسلم فسقاه يهودي فقال له النبي صلى الله عليه وسلم جملك الله فما رأي الشيب حتي مات
“Tetapi berdoa untuk orang kafir agar mendapatkan petunjuk, sehat badan, keselamatan dunia,dan yang sejenisnya. Dan kami riwayatkan di dalam kitab Ibnu as-Sunni dari Sayyidinaa Anas radhiyallahu ‘anhu, Ia berkata : Rasulullah pernah minta air kepada Yahudi, dan Yahudi tersebut memberikannya kepada Beliau, maka beliaupun berkata kepadanya; Jammalakallah, (Semoga Allah baguskan engkau) Maka Yahudi tersebut tidak melihat uban sampai matinya”.

3⃣➖      Memohonkan ampunan ketika masih hidup

Kebanyakan ulama berpendapat tidak boleh memohonkan ampunan bagi orang kafir baik ketika masih hidup maupun telah mati. Berkata al Imam an Nawawi rahimahullah :
اعلم انه لا يجوز ان يدعي له بالمغفرة وما اشبهها مما لا يقال لكفار
“Ketahuilah bahwasanya tidak boleh berdoa untuk orang kafir atau mendoakannya dengan ampunan dan sebagainya dari sesuatu yang tidak layak dikatakan untuk orang orang kafir.[3]
Ibnu Arabi dalam menyatakan : “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa beberapa laki-laki dari Sahabat Nabi bertanya pada Nabi: ‘Ya Rasulullah sebagian dari ayah-ayah kami adalah orang-orang yang baik pada tetangga dan meny
ambung silaturrahim, apakah kami tidak boleh memohonkan ampun pada mereka?’ Maka turunlah ayat  111 dari surah At Taubah.” (artinya tidak boleh).[4]

➖Sedangkan sebagian ulama membolehkan mendoakan ampunan atas orang kafir yang masih hidup.  Imam At-Thabari beliau mengatakan dalam tafsirnya: “Sekelompok ulama’ telah menafsiri firman Allah : “Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya…” Bahwa larangan dari Allah untuk memintakan ampun bagi kaum musyrikin adalah setelah matinya mereka (dalam keadaan kafir), karena firman-Nya : “Sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni  jahim”. Mereka mengatakan: “alasannya, karena tidak ada yg bisa memastikan (bahwa dia ahli neraka), kecuali setelah ia mati dalam kekafirannya, adapun saat ia masih hidup, maka tidak ada yg bisa mengetahui hal itu, sehingga dibolehkan bagi Kaum Mukminin untuk memintakan ampun bagi mereka.[5]

➖Kalangan yang membolehkan doa ampunan kepada orang kafir yang masih hidup juga berdalil dengan Mafhum Mukholafah dari firman Allah berikut:
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ . وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ
“Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni (neraka) jahim. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (at-Taubah: 113-114)
Ayat diatas mengaitkan “larangan memintakan ampun untuk kaum Musyrikin”, dg keadaan “sesudah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka”. Sehingga sebelum jelas menjadi penghuni neraka, boleh di mintakan ampun… Dan telah shohih dari Ibnu Abbas, bahwa maksud dari firman Allah yg artinya: “Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah” adalah “setelah mati dalam keadaan kufur”. Sehingga sebelum kematiannya, masih boleh dimintakan ampun.

◻◻◻◻◻◻◻◻◻◻◻◻◻◻◻◻◻
KESIMPULAN RINGKASNYA

1.      Yang diharamkan adalah memohonkan ampunan atas orang kafir yang sudah meninggal.

2.      Adapun mendoakan orang kafir agar mendapatkan hidayah maka hukumnya boleh.

3.      Ulama berbeda pendapat tentang hukum mendoakan kebaikan urusan dunia seperti kesehatan, rezeki atau bela sungkawa atas musibah. Menurut mayoritas ulama dibolehkan.

4.      Ulama juga berbeda pendapat tentang hukum mendoakan ampunan atas orang kafir yang masih hidup, sebagian kelompok ulama membolehkan, sedangkan jumhur ulama melarang.

5_menod,akan buruk terhadap non muslim yg memerangi atau memusuhi org islam hukum nya boleh.

Wallahu a’lam.

📚Sumber rujukan utama:
📖(QS. At-Taubah: 113-114).
📖(QS. At-Taubah: 84).
📖(fathul Baari, Ibnu Hajar al-Asqalani: 6/108)
📖(Al-Furuuq, Al-Qarrofi: 4/296).
📖al majmu' syarah al muhadzdzab 5/120.

📖Al Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah (11/187).
📖Al-Adzkar  halaman 282.
📖Al-Adzkar  halaman 282.
📖Ahkamul Quran (2/591).
📖Tafsir Thabari (12/26).

REFRENSI PENDUKUNG:

REFRENSI:

Tafsir ath_thobariy
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَن يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ (113)
القول في تأويل قوله : مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ (113)
قال أبو جعفر: يقول تعالى ذكره: ما كان ينبغي للنبي محمدٍ صلى الله عليه وسلم والذين آمنوا به= " أن يستغفروا ", يقول: أن يدعوا بالمغفرة للمشركين, ولو كان المشركون الذين يستغفرون لهم= " أولي قربى ", ذوي قرابة لهم= " من بعد ما تبين لهم أنهم أصحاب الجحيم "، يقول: من بعد ما ماتوا على شركهم بالله وعبادة الأوثان، وتبين لهم أنهم من أهل النار، لأن الله قد قضى أن لا يغفر لمشرك، فلا ينبغي لهم أن يسألوا ربهم أن يفعل ما قد علموا أنه لا يفعله. فإن قالوا: فإن إبراهيم قد استغفر لأبيه وهو مشرك؟ فلم يكن استغفارُ إبراهيم لأبيه إلا لموعدة وعدها إياه. فلما تبين له وعلم أنه لله عدوٌّ، خلاه وتركه ، وترك الاستغفار له, وآثر الله وأمرَه عليه, فتبرأ منه حين تبين له أمره. (17)
* * *

Tafsir ibnu katsir
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَن يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ (113)
قال الإمام أحمد : حدثنا عبد الرزاق ، حدثنا معمر ، عن الزهري ، عن ابن المسيب ، عن أبيه قال : لما حضرت أبا طالب الوفاة دخل عليه النبي صلى الله عليه وسلم وعنده أبو جهل ، وعبد الله بن أبي أمية ، فقال : " أي عم ، قل : لا إله إلا الله . كلمة أحاج لك بها عند الله ، عز وجل " . فقال أبو جهل وعبد الله بن أبي أمية : يا أبا طالب ، أترغب عن ملة عبد المطلب ؟ [ قال : فلم يزالا يكلمانه ، حتى قال آخر شيء كلمهم به : على ملة عبد المطلب ] . فقال النبي صلى الله عليه وسلم : " لأستغفرن لك ما لم أنه عنك " . فنزلت : ( ما كان للنبي والذين آمنوا أن يستغفروا للمشركين ولو كانوا أولي قربى من بعد ما تبين لهم أنهم أصحاب الجحيم ) قال : ونزلت فيه : ( إنك لا تهدي من أحببت ) [ القصص : 56 ] أخرجاه .
وقال الإمام أحمد : حدثنا يحيى بن آدم ، أخبرنا سفيان ، عن أبي إسحاق ، عن أبي الخليل ، عن علي ، رضي الله عنه ، قال : سمعت رجلا يستغفر لأبويه ، وهما مشركان ، فقلت : أيستغفر الرجل لأبويه وهما مشركان ؟ فقال : أولم يستغفر إبراهيم لأبيه ؟ فذكرت ذلك للنبي صلى الله عليه وسلم ، فنزلت : ( ما كان للنبي والذين آمنوا أن يستغفروا للمشركين ) إلى قوله : ( فلما تبين له أنه عدو لله ) قال : " لما مات " ، فلا أدري قاله سفيان أو قاله إسرائيل ، أو هو في الحديث " لما مات " .
قلت هذا ثابت عن مجاهد أنه قال : لما مات .


Tafsiir al-Maraaghy I/2263
{مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ والذين آمنوا أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كانوا أُوْلِي قربى مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الجحيم} [ التوبة : 113 ]

وفى الآية إيماء إلى تحريم الدعاء لمن مات على كفره بالمغفرة والرحمة ، أو بوصفه بذلك كقولهم المغفور له والمرحوم فلان ، كما يفعله بعض جهلة المسلمين من الخاصة والعامة.

📖ﻭﻓﻰ ﺣﺎﺷﻴﺔ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﺍﻟﺼﺎﻭﻯ، ﺝ 2 ﺹ 171 ، ﻣﺎﻧﺼﻪ : ‏

( ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻟﻠﻨﺒﻰ ﻭﺍﻟﺬﻳﻦ ﺃﻣﻨﻮﺍ ﺍﻥ ﻳﺴﺘﻐﻔﺮﻭﺍ ﻟﻠﻤﺸﺮﻛﻴﻦ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﺃﻭﻟﻰ ﻗﺮﺑﻰ ‏) ﺫﻭﻯ ﻗﺮﺍﺑﺔ ‏( ﻣﻦ ﺑﻌﺪ ﻣﺎ ﺗﺒﻴﻦ ﻟﻬﻢ ﺃﻧﻬﻢ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﺠﺤﻴﻢ ‏) ﺍﻟﻨﺎﺭ ﺑﺄﻥ ﻣﺎﺗﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻜﻔﺮ ‏( ﻗﻮﻟﻪ ﺑﺄﻥ ﻣﺎﺗﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻜﻔﺮ ‏) ﺃﻯ ﻓﻼ ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻬﻢ ﺍﻹﺳﺘﻐﻔﺎﺭ ﺣﻴﻨﺌﺬ ﻭﺍﻣﺎ ﺍﻹﺳﺘﻐﻔﺎﺭ ﻟﻠﻜﺎﻓﺮ ﺍﻟﺤﻰ ﻓﻔﻴﻪ ﺗﻔﺼﻴﻞ ﻭﺍﻥ ﻛﺎﻥ ﻗﺼﺪﻩ ﺑﺬﻟﻚ ﺍﻹﺳﺘﻐﻔﺎﺭ ﻫﺪﺍﻳﺘﻪ ﻟﻺﺳﻼﻡ ﺟﺎﺯ ﻭﺍﻥ ﻛﺎﻥ ﻗﺼﺪﻩ ﺃﻥ ﺗﻐﻔﺮ ﺫﻧﻮﺑﻪ ﻣﻊ ﺑﻘﺎﺋﻪ ﻓﻰ ﺍﻟﻜﻔﺮ ﻓﻼ ﻳﺠﻮﺯ . ﺍﻫـ


📖(al-Majmu’ 5/120).

Imam An-Nawawi berkata,

قال النووي رحمه الله : وأما الصلاة على الكافر والدعاء له بالمغفرة فحرام بنص القرآن والإجماع

📒Hasyiyah al-Qalyubi IV/270

( فَرْعٌ ) فِي اسْتِحْبَابِ الدُّعَاءِ لِلْكَافِرِ خِلَافٌ ا هـ .وَاعْتَمَدَ م ر الْجَوَازَ وَأَظُنُّ أَنَّهُ قَالَ لَا يَحْرُمُ الدُّعَاءُ لَهُ بِالْمَغْفِرَةِ إلَّا إذَا أَرَادَ الْمَغْفِرَةَ لَهُ مَعَ مَوْتِهِ عَلَى الْكُفْرِ وَسَيَأْتِي فِي الْجَنَائِزِ التَّصْرِيحُ بِتَحْرِيمِ الدُّعَاءِ لِلْكَافِرِ بِالْمَغْفِرَةِ نَعَمْ إنْ أَرَادَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ إنْ أَسْلَمَ أَوْ أَرَادَ بِالدُّعَاءِ لَهُ بِالْمَغْفِرَةِ أَنْ يَحْصُلَ لَهُ سَبَبُهُ وَهُوَ الْإِسْلَامُ ثُمَّ هِيَ فَلَا يُتَّجَهُ إلَّا الْجَوَازُ ا هـ .سم عَلَى الْمَنْهَجِ وَيَنْبَغِي أَنَّ ذَلِكَ كُلَّهُ إذَا لَمْ يَكُنْ عَلَى وَجْهٍ يُشْعِرُ بِالتَّعْظِيمِ وَإِلَّا امْتَنَعَ خُصُوصًا إذَا قَوِيَتْ الْقَرِينَةُ عَلَى تَعْظِيمِهِ وَتَحْقِيرِ غَيْرِهِ كَأَنْ فَعَلَ فِعْلًا دَعَا لَهُ بِسَبَبِهِ وَلَمْ يَقُمْ بِهِ غَيْرُهُ مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَأَشْعَرَ بِتَحْقِيرِ ذَلِكَ الْغَيْرِ ا هـ .

📖Hasyiyah al-Qalyubi IV/270
( فَرْعٌ ) يَجُوزُ إجَابَةُ دُعَاءِ الْكَافِرِينَ ، وَيَجُوزُ الدُّعَاءُ لَهُ وَلَوْ بِالْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ ، خِلَافًا لِمَا فِي الْأَذْكَارِ إلَّا مَغْفِرَةَ ذَنْبِ الْكُفْرِ مَعَ مَوْتِهِ عَلَى الْكُفْرِ فَلَا يَجُوزُ .

📖‏( ﺍﻟﺠﻤﻞ ﻋﻠﻰ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻤﻨﻬﺞ ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻟﺜﺎﻧﻰ ﺹ 134 ‏)
ﻭﻗﻮﻟﻪ ﻭﺃﻥ ﻳﺪﻋﻮ ﻟﻪ ﺑﺎﻟﺸﻔﺎﺀ ﺃﻱ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻓﺮﺍ ﺃﻭ ﻓﺎﺳﻘﺎ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻣﺮﺿﻪ ﺭﻣﺪﺍ ﻭﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻣﺤﻠﻪ ﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻓﻲ ﺣﻴﺎﺗﻪ ﺿﺮﺭ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﺇﻻ ﻓﻼ ﻳﻄﻠﺐ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻟﻪ ﺑﻞ ﻟﻮ ﻗﻴﻞ ﺑﻄﻠﺐ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻋﻠﻴﻪ ﻟﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺼﻠﺤﺔ ﻟﻢ ﻳﺒﻌﺪ



📒[ Hasyiyah al-jamal III/436 ].

وَيَجُوزُ الدُّعَاءُ لِلْكَافِرِ بِنَحْوِ صِحَّةِ الْبَدَنِ وَالْهِدَايَةِ وَاخْتَلَفُوا فِي جَوَازِ التَّأْمِينِ عَلَى دُعَائِهِ .

📖تحفۃ المحتاج 3,75
ولایمنع أھل الذمۃ أو العہد الحضور أی لاینبغی ذلک
ویظہر أن محلہ مالم یرالامام المصلحۃ فی ذلک علی أنہ یسن للامام المنع من المکروہ کماصرحوا بہ وسیأتی أنہ یکرہ لہم الحضور الاأن یجاب بأن المقام مقام ذلۃ واستکانۃ فلایکسر خاطرھم حیث لامصلحۃ تقتضی ذلک, لأنہم مسترزقون وفضل اللہ واسع وقد تعجل لہم الاجابۃ استدراجا وبہ یردقول البحر یحرم التأمین علی دعاء الکافر,لأنہ غیر مقبول اھ

علی انہ قد یختم لہ بالحسنی فلاعلم بعدم قبولہ الابعدتحقق موتہ علی کفرہ ثم رأیت الأذرعی قال اطلاقہ بعید,

والوجہ جواز التأمین بل ندبہ اذا دعالنفسہ بالہدایۃ ولنا بالنصر مثلا ومنعہ اذاجہل مایدعو بہ,لأنہ قد یدعو باثم أی بل ھو الظاھر من حالہ ویکرہ لہم الحضور,ولنا احضارھم, قولہ وبہ یرد الخ أی بکونہم قد تعجل لہم الاجابۃ استدراجا ولو قیل وجہ الحرمۃ أن فی التأمین علی دعائہ تعظیمالہ وتغریرا للعامۃ بحسن طریقتہ لکان حسنا ع ش قول البحر یحرم التأمین الخ اعتمدہ المغنی,قولہ ثم رأیت الأذرعی قال اطلاقہ بعید الخ أقرہ ع ش ثم قال فرع فی استحباب الدعاء للکافر خلاف واعتمد م ر الجواز وأظن أنہ قال لایحرم الدعاء لہ بالمغفرۃ الااذا اراد المغفرۃ مع موتہ علی الکفر وسیأتی فی الجنائز التصریح بتحریم الدعاء للکافر بالمغفرۃ, نعم ان أراد اللہم اغفرلہ ان اسلم أو اراد بالدعاء لہ بالمغفرۃ أن یحصل لہ سببہ وھو الاسلام فلایتجہ الاالجواز سم علی المنہج وینبغی أن ذلک کلہ اذا لم یکن علی وجہ یشعر بالتعظیم والاامتنع خصوصاًاذا قویت القرینۃ علی تعظیمہ وتحقیر غیرہ کأن فعل فعلا دعا لہ بسببہ ولم یقم بہ غیرہ من المسلمین فأشعر بتحقیر ذلک الغیر

Allahu a’lam
diskusihukumfiqh212.blogspot.com
hikmahdhf.blogspot.com

HUKUM MENDO,AKAN NON MUSLIM

KESIMPULAN TEAM DHF

*HUKUM MENDO,AKAN NON MUSLIM DAN IKUT SERTA MEMANDIKAN,MENGKAFANI,MENYOLATI,DAN MENGUBURKAN MAYYIT NON MUSLIM*
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

بسم الله الرحمن الرحيم
BAGIAN SATU:

HUKUM MENDO,KAN ORANF KAFIR YG SUDAH MATI
__________

◼ imam.NAWAWI MENGEGASKAN di dalam kitab nya al majmu' syarhul muhadzdzab juz 5 hal 120,
Bahwa mensholati dan mendoakan utk memintakan ampunan dan rahmat  (sesudah kematianya) adalah haram secara nash alqur,an yg shoreh dan ijama'/kesepakatan ulama'

Bahkan
Sekalipun non muslim tersebut ada hubungan famili dan karabat sperti orang tua, anak, saudara dll.

◼SEBAGAIMANA TELAH DI JELASKAN DALAM FIRMAN ALLAH SWT
Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahanam”. (QS. 9:113).

◼sebagaimana penafsiaran ulama'
Dalam ayat ini
memberi pengertian akan keharaman mendoakan orang yang telah meninggal dalam keadaan kufurnya dengan doa memintakan ampunan dan rahmat Allah atau mensifati mereka seperti dengan ucapan AL-MAGHFUR LAH (yang telah terampuni), ALMARHUM (yang telah dirahmati) seperti yang dilakukan oleh sebagian orang-orang bodoh dari kaum muslimin dari kalangan orang-orang tertentu maupun orang awam.

BAGIAN DUA:

HUKUM MENDO,AKAN AMPUNAN UNTUK NON MUSLIM (KAFIR) SEMASA HIDUP NYA
__________________

Ulama' khilafiyah tentang
Memintakan ampunan untuk non muslim yg masih hidup.

◾Pendapat pertama merupakan pendapat jumhur ulama'  hukum nya haram secara mutlak baik masih hidup maupun sudah mati.

◾ pendapat kedua:

memintakan ampunan non muslim semasa hidupnya bukan atas ke kafiran nya, melainkan dgn harapan agar ia mendapatkan hidayah dari Allah
Sebagian kelompok ulama' mengatakan
Boleh.
Sebab menurut sebagian ulama' sperti al.imam ath_thobari dalam tafsirnya bahwa yg haram mendoakan ampunan ialah ketika ia sudah mati krn jika sudah mati ia sudah pasti di neraka dan kekal selamanya,
Sedangkan jika masih hidup maka tidak ada yg mengetahui hal itu, sehingga bisa saja Allah mengampuninya dan masuk islam.

Dgn catatan :
➖bukan memintakan ampunan terhadap kekafiran nya sesudah mati.
➖ tidak ada unsur pengagungan terhadap kekafiran nya.
➖Serta tidak menimbulkan spectif buruk
➖dan adanya tujuan agar menjadi pelantara /sebab mendapatkan nya hidyah.

Sebagaimana:
Ar-Ramli as-Shaghiir memilih diperbolehkannya “Tidak haram mendoakan non muslim dengan mendapatkan ampunan kecuali mendoakan orang kafir dalam memintakan ampunan atas kekafirannya, sedangkan orang yang didoakan sudah mati dalam keadaan kafir, maka tidak diperbolehkan”Bila yang dikehendaki “Ya Allah ampunilah ia bila masuk islam atau bila dikehendaki agar ia islam saat didoakan ampunan maka boleh”

◻Hanya saja menurt alQasiim bila yang demikian tidak menimbulakan pengagungan terhadap mereka, bila menimbulkan maka dilarang terlebih bila disertai tanda kuat akan pengagungan terhadap mereka dan melecehkan terhadap lainnya seperti selepas mereka menjalani suatu pekerjaan dan tidak terdapati selainnya yang mampu mengerjakannya maka doanya pertanda mengagungkan mereka dan melecehkan selainnya. (Lihat :Hasyiyah as-Syibra malisy VI/1) dan [ Hasyiyah al-Qalyubi IV/270 ].




BAGIAN KE TIGA:

MENDOAKAN NON MUSLIM (KAFIR )DALAM URUSAN DUNIA
____________________
----------------------------------
Mendoakan non Muslim dalam urusan dunia , sperti kesehatan badan, rizki, dll hukum nya boleh.

BAGIAN KE EMPAT:

HUKUM MENDO,AKAN HIDAYAH UNTUK NON MUSLIM
____________________
Hukum mendoakan hidayah agara masuk islam  utk non muslim (kafir) hukum nya boleh bahkan di anjurkan.


BAGIAN KE LIMA:

HUKUM MENG_AMINI DO'A NON MUSLIM
___________________________
Hukum mengamini do,a non muslim (kafir) ulama khilafiyah dikalangan ulama'
Menurut
Jumhur ulama' menghukumi boleh.

BAGIAN KE ENAM:

HUKUM MUSLIM MEMANDIKAN,MENGKAFANI,MENYOLATI,MENGUBURKAN  MAYAT NON MUSLIM ATAU SEBALIKNYA
_____________________________________


Al Mausu'ah al fiqhiyah Al Kuwaitiyah :

Ijma ulama : Tidak wajib kepada muslim memandikan mayit kafir.
Sebab memandikan mayyit merupakan penghormatan/pemuliaan terhadap mayyit, semenatara bagi mayyit yg kafir bukan bagian dari mayyit yg wajib di muliakan dan di hormati.

Tetapi ulama' masih khilafiyah meskipun tidak wajib bagi muslim utk memandikan nya , bila mana dalam situasi darurat.

* Madzhab hanafifiyah yang juga menjadi QOUL imam ahmad : HUKUM MEAMNDIKAN MAYIT KAFIR HARAM kecuali Jika dibutuhkan,Boleh bagi kerabat yang muslim memandikan mayit kafir.
Dgn syarat tdk ada yg memandikan nya dari kalangan non muslim itu sendiri.

* Madzhab Syafi'i : Boleh bagi muslim memandikan mayit kafir,namun kerabat mayit yang kafir lebih berhaq memandikan daripada kerabat yang muslim.

* Madzhab Maliki dan sebagian pendapat ulama madzhab hanabilah : seorang muslim tidak boleh (haram) memandikan mayit kafir secara mutlak,baik kerabatnya ataupun bukan kerabat.

Bahkan menurutnya suami pum haram ikut serta memandikan istrinya yg kafir.
Kecuali kematian istri tersebut di lingkup kalangan muslimin yg tidak ada org kafir lain yg dapat memandikannya, kecuali qaum muslimin yg ada, mk dlam hal ini suami lebh berhak memandikannya.

Semntara pendapat imam ahmad bin hanbal haram secara mutlak bagi suami.
Krn niat memandikan mayit wajib, semntara mayit kafir bukan ahli ibadah.

Menurut hanafiyah istri tdk di larang memandikan jenazah suami nya yg kafir, dgn syarat masih tetap ada hububgan pernikahan apabila ia kafir kitabiy.

Apabila sebalik nya yaitu suami memandikan mayat  istri yg kafir  maka menurut qaul yg lebih shohih (madzhab abu hanifah) tidak boleh

◾Dalam. Hal kafir memandikan mayit muslim.
Ulama hanafiyah, malikiyah,syafiiyah,  dr qaul maqobilus shohihnya dan ulama hanibalh:
Bahwa tidak sah mayit muslim di mandikan non msulim. Sbb org kafir bukan ahlinya. Disamping itu niat memandikan mayyit adalah wajib semntara kafir bukan ahlinya.

◾Dlam qaul shohih yg telah di nash dalam madzhab syafiiyah, bahwa jika kafir memandikan mayit non muslim adalah cukup (sah)

Dalam kitab Al-Kaafi Imam Ahmad mengatakan : tidak boleh bagi muslim memandikan mayit kafir,walaupun mayit tsb adalah kerabatnya. Dalam hal menguburkannya imam ahmad juga tidak memperbolehkan muslim ikut mengubur mayit kafir.kecuali di khawatirkan takut tersia-sia (tidak ada yang mau menguburnya)

Kesimpulannya:
Sebagaimana di jelaskan di dalam kitab
- Mukhtashor Al-Fiqh Al-Islami :

Haram bagi muslim memandikan mayit kafir,(kecuali memang darurat)mengkafaninya,menyolatkannya dan mengiring jenazahnya.

BAGIAN KE TUJUH:

HUKUM MENDATANGI KUBURAN ORANG KAFIR
______________________________________

- Ziarah kubur disunnahkan sebagai nasihat atau mengingat akhirat, hal itu bisa dengan melihat kuburan tanpa mengetahui penghuninya, atau untuk mendoakan maka disunnahkan pada setiap kuburan orang Islam, atau bertabarruk maka disunnahkan pada setiap orang yang baik, karena mereka di dalam alam barzah bertingkah laku dan mempunyai barokah yang karunianya tidak terhingga, atau untuk menunaikan hak, seperti teman dan orang tua. Jadi sepanjang diyakini ahli kuburnya muslim maka sunnah mendoakannya tak peduli ia shalih atau fasiq.

- tapi kalau mayit kafir tidak boleh didoakan dan hukumnya Haram.

Wal hasil:
Menurut keterangan yang terdapat dalam kitab Fathul Wahhab karya Syekhul Islam Zakariya al-Anshari, berziarah ke kuburan orang non-Muslim itu diperbolehkan.

“Bahwa berziarah ke kuburan orang-orang kafir itu mubah (diperbolehkan).” (Zakariya al-Anshari, Fathul Wahhab, Beirut-Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, 1418 H, juz, 1, h. 176).

Namun, sepanjang berziarah kubur ke kuburan orang non-Muslim dilakukan untuk mengingatkan kita akan kematian dan alam akhirat atau i’tibar (pelajaran) dan peringatan kepada kita akan kematian.

Jika menziarahi kuburan orang yang non-Muslim saja diperbolehkan, maka logikanya adalah menziarahinya ketika masih hidup itu lebih utama (awla). Inilah yang kemudian ditegaskan oleh Imam an-Nawawi dalam kitab Syarh Muslim-nya.

“Jika boleh menziarahi mereka (non-Muslim) setelah meninggal dunia, maka menziarahi mereka ketika masih hidup itu lebih utama.” (Muhyiddin Syaraf an-Nawawi, Syarhun Nawawi ala Shahihi Muslim, Beirut-Daru Ihya’it Turats al-Arabi, cet ke-II, 1392 H, juz, VIII, h. 45)

◾Tambahan :
Bahkan ziarah kubur disunnahkan sebagai nasihat atau mengingat akhirat, hal itu bisa dengan melihat kuburan tanpa mengetahui penghuninya, atau untuk mendoakan maka disunnahkan pada setiap kuburan orang Islam, atau bertabarruk maka disunnahkan pada setiap orang yang baik, karena mereka di dalam alam barzah bertingkah laku dan mempunyai barokah yang karunianya tidak terhingga, atau untuk menunaikan hak, seperti teman dan orang tua.

Dari sini untuk mendoakan kepada setiap orang Islam baik diketahui kebaikannya atau tidak, maka disunnahkan.

📚REFRENSI:

Tafsir ath_thobariy
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَن يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ (113)
القول في تأويل قوله : مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ (113)
قال أبو جعفر: يقول تعالى ذكره: ما كان ينبغي للنبي محمدٍ صلى الله عليه وسلم والذين آمنوا به= " أن يستغفروا ", يقول: أن يدعوا بالمغفرة للمشركين, ولو كان المشركون الذين يستغفرون لهم= " أولي قربى ", ذوي قرابة لهم= " من بعد ما تبين لهم أنهم أصحاب الجحيم "، يقول: من بعد ما ماتوا على شركهم بالله وعبادة الأوثان، وتبين لهم أنهم من أهل النار، لأن الله قد قضى أن لا يغفر لمشرك، فلا ينبغي لهم أن يسألوا ربهم أن يفعل ما قد علموا أنه لا يفعله. فإن قالوا: فإن إبراهيم قد استغفر لأبيه وهو مشرك؟ فلم يكن استغفارُ إبراهيم لأبيه إلا لموعدة وعدها إياه. فلما تبين له وعلم أنه لله عدوٌّ، خلاه وتركه ، وترك الاستغفار له, وآثر الله وأمرَه عليه, فتبرأ منه حين تبين له أمره. (17)
* * *

Tafsir ibnu katsir
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَن يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ (113)
قال الإمام أحمد : حدثنا عبد الرزاق ، حدثنا معمر ، عن الزهري ، عن ابن المسيب ، عن أبيه قال : لما حضرت أبا طالب الوفاة دخل عليه النبي صلى الله عليه وسلم وعنده أبو جهل ، وعبد الله بن أبي أمية ، فقال : " أي عم ، قل : لا إله إلا الله . كلمة أحاج لك بها عند الله ، عز وجل " . فقال أبو جهل وعبد الله بن أبي أمية : يا أبا طالب ، أترغب عن ملة عبد المطلب ؟ [ قال : فلم يزالا يكلمانه ، حتى قال آخر شيء كلمهم به : على ملة عبد المطلب ] . فقال النبي صلى الله عليه وسلم : " لأستغفرن لك ما لم أنه عنك " . فنزلت : ( ما كان للنبي والذين آمنوا أن يستغفروا للمشركين ولو كانوا أولي قربى من بعد ما تبين لهم أنهم أصحاب الجحيم ) قال : ونزلت فيه : ( إنك لا تهدي من أحببت ) [ القصص : 56 ] أخرجاه .
وقال الإمام أحمد : حدثنا يحيى بن آدم ، أخبرنا سفيان ، عن أبي إسحاق ، عن أبي الخليل ، عن علي ، رضي الله عنه ، قال : سمعت رجلا يستغفر لأبويه ، وهما مشركان ، فقلت : أيستغفر الرجل لأبويه وهما مشركان ؟ فقال : أولم يستغفر إبراهيم لأبيه ؟ فذكرت ذلك للنبي صلى الله عليه وسلم ، فنزلت : ( ما كان للنبي والذين آمنوا أن يستغفروا للمشركين ) إلى قوله : ( فلما تبين له أنه عدو لله ) قال : " لما مات " ، فلا أدري قاله سفيان أو قاله إسرائيل ، أو هو في الحديث " لما مات " .
قلت هذا ثابت عن مجاهد أنه قال : لما مات .


Tafsiir al-Maraaghy I/2263
{مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ والذين آمنوا أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كانوا أُوْلِي قربى مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الجحيم} [ التوبة : 113 ]

وفى الآية إيماء إلى تحريم الدعاء لمن مات على كفره بالمغفرة والرحمة ، أو بوصفه بذلك كقولهم المغفور له والمرحوم فلان ، كما يفعله بعض جهلة المسلمين من الخاصة والعامة.

📖ﻭﻓﻰ ﺣﺎﺷﻴﺔ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﺍﻟﺼﺎﻭﻯ، ﺝ 2 ﺹ 171 ، ﻣﺎﻧﺼﻪ : ‏

( ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻟﻠﻨﺒﻰ ﻭﺍﻟﺬﻳﻦ ﺃﻣﻨﻮﺍ ﺍﻥ ﻳﺴﺘﻐﻔﺮﻭﺍ ﻟﻠﻤﺸﺮﻛﻴﻦ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﺃﻭﻟﻰ ﻗﺮﺑﻰ ‏) ﺫﻭﻯ ﻗﺮﺍﺑﺔ ‏( ﻣﻦ ﺑﻌﺪ ﻣﺎ ﺗﺒﻴﻦ ﻟﻬﻢ ﺃﻧﻬﻢ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﺠﺤﻴﻢ ‏) ﺍﻟﻨﺎﺭ ﺑﺄﻥ ﻣﺎﺗﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻜﻔﺮ ‏( ﻗﻮﻟﻪ ﺑﺄﻥ ﻣﺎﺗﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻜﻔﺮ ‏) ﺃﻯ ﻓﻼ ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻬﻢ ﺍﻹﺳﺘﻐﻔﺎﺭ ﺣﻴﻨﺌﺬ ﻭﺍﻣﺎ ﺍﻹﺳﺘﻐﻔﺎﺭ ﻟﻠﻜﺎﻓﺮ ﺍﻟﺤﻰ ﻓﻔﻴﻪ ﺗﻔﺼﻴﻞ ﻭﺍﻥ ﻛﺎﻥ ﻗﺼﺪﻩ ﺑﺬﻟﻚ ﺍﻹﺳﺘﻐﻔﺎﺭ ﻫﺪﺍﻳﺘﻪ ﻟﻺﺳﻼﻡ ﺟﺎﺯ ﻭﺍﻥ ﻛﺎﻥ ﻗﺼﺪﻩ ﺃﻥ ﺗﻐﻔﺮ ﺫﻧﻮﺑﻪ ﻣﻊ ﺑﻘﺎﺋﻪ ﻓﻰ ﺍﻟﻜﻔﺮ ﻓﻼ ﻳﺠﻮﺯ . ﺍﻫـ


📖(al-Majmu’ 5/120).

Imam An-Nawawi berkata,

قال النووي رحمه الله : وأما الصلاة على الكافر والدعاء له بالمغفرة فحرام بنص القرآن والإجماع

📒Hasyiyah al-Qalyubi IV/270

( فَرْعٌ ) فِي اسْتِحْبَابِ الدُّعَاءِ لِلْكَافِرِ خِلَافٌ ا هـ .وَاعْتَمَدَ م ر الْجَوَازَ وَأَظُنُّ أَنَّهُ قَالَ لَا يَحْرُمُ الدُّعَاءُ لَهُ بِالْمَغْفِرَةِ إلَّا إذَا أَرَادَ الْمَغْفِرَةَ لَهُ مَعَ مَوْتِهِ عَلَى الْكُفْرِ وَسَيَأْتِي فِي الْجَنَائِزِ التَّصْرِيحُ بِتَحْرِيمِ الدُّعَاءِ لِلْكَافِرِ بِالْمَغْفِرَةِ نَعَمْ إنْ أَرَادَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ إنْ أَسْلَمَ أَوْ أَرَادَ بِالدُّعَاءِ لَهُ بِالْمَغْفِرَةِ أَنْ يَحْصُلَ لَهُ سَبَبُهُ وَهُوَ الْإِسْلَامُ ثُمَّ هِيَ فَلَا يُتَّجَهُ إلَّا الْجَوَازُ ا هـ .سم عَلَى الْمَنْهَجِ وَيَنْبَغِي أَنَّ ذَلِكَ كُلَّهُ إذَا لَمْ يَكُنْ عَلَى وَجْهٍ يُشْعِرُ بِالتَّعْظِيمِ وَإِلَّا امْتَنَعَ خُصُوصًا إذَا قَوِيَتْ الْقَرِينَةُ عَلَى تَعْظِيمِهِ وَتَحْقِيرِ غَيْرِهِ كَأَنْ فَعَلَ فِعْلًا دَعَا لَهُ بِسَبَبِهِ وَلَمْ يَقُمْ بِهِ غَيْرُهُ مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَأَشْعَرَ بِتَحْقِيرِ ذَلِكَ الْغَيْرِ ا هـ .

📖Hasyiyah al-Qalyubi IV/270
( فَرْعٌ ) يَجُوزُ إجَابَةُ دُعَاءِ الْكَافِرِينَ ، وَيَجُوزُ الدُّعَاءُ لَهُ وَلَوْ بِالْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ ، خِلَافًا لِمَا فِي الْأَذْكَارِ إلَّا مَغْفِرَةَ ذَنْبِ الْكُفْرِ مَعَ مَوْتِهِ عَلَى الْكُفْرِ فَلَا يَجُوزُ .

📖‏( ﺍﻟﺠﻤﻞ ﻋﻠﻰ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻤﻨﻬﺞ ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻟﺜﺎﻧﻰ ﺹ 134 ‏)
ﻭﻗﻮﻟﻪ ﻭﺃﻥ ﻳﺪﻋﻮ ﻟﻪ ﺑﺎﻟﺸﻔﺎﺀ ﺃﻱ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻓﺮﺍ ﺃﻭ ﻓﺎﺳﻘﺎ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻣﺮﺿﻪ ﺭﻣﺪﺍ ﻭﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻣﺤﻠﻪ ﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻓﻲ ﺣﻴﺎﺗﻪ ﺿﺮﺭ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﺇﻻ ﻓﻼ ﻳﻄﻠﺐ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻟﻪ ﺑﻞ ﻟﻮ ﻗﻴﻞ ﺑﻄﻠﺐ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻋﻠﻴﻪ ﻟﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺼﻠﺤﺔ ﻟﻢ ﻳﺒﻌﺪ



📒[ Hasyiyah al-jamal III/436 ].

وَيَجُوزُ الدُّعَاءُ لِلْكَافِرِ بِنَحْوِ صِحَّةِ الْبَدَنِ وَالْهِدَايَةِ وَاخْتَلَفُوا فِي جَوَازِ التَّأْمِينِ عَلَى دُعَائِهِ .

📖تحفۃ المحتاج 3,75
ولایمنع أھل الذمۃ أو العہد الحضور أی لاینبغی ذلک
ویظہر أن محلہ مالم یرالامام المصلحۃ فی ذلک علی أنہ یسن للامام المنع من المکروہ کماصرحوا بہ وسیأتی أنہ یکرہ لہم الحضور الاأن یجاب بأن المقام مقام ذلۃ واستکانۃ فلایکسر خاطرھم حیث لامصلحۃ تقتضی ذلک, لأنہم مسترزقون وفضل اللہ واسع وقد تعجل لہم الاجابۃ استدراجا وبہ یردقول البحر یحرم التأمین علی دعاء الکافر,لأنہ غیر مقبول اھ

علی انہ قد یختم لہ بالحسنی فلاعلم بعدم قبولہ الابعدتحقق موتہ علی کفرہ ثم رأیت الأذرعی قال اطلاقہ بعید,

والوجہ جواز التأمین بل ندبہ اذا دعالنفسہ بالہدایۃ ولنا بالنصر مثلا ومنعہ اذاجہل مایدعو بہ,لأنہ قد یدعو باثم أی بل ھو الظاھر من حالہ ویکرہ لہم الحضور,ولنا احضارھم, قولہ وبہ یرد الخ أی بکونہم قد تعجل لہم الاجابۃ استدراجا ولو قیل وجہ الحرمۃ أن فی التأمین علی دعائہ تعظیمالہ وتغریرا للعامۃ بحسن طریقتہ لکان حسنا ع ش قول البحر یحرم التأمین الخ اعتمدہ المغنی,قولہ ثم رأیت الأذرعی قال اطلاقہ بعید الخ أقرہ ع ش ثم قال فرع فی استحباب الدعاء للکافر خلاف واعتمد م ر الجواز وأظن أنہ قال لایحرم الدعاء لہ بالمغفرۃ الااذا اراد المغفرۃ مع موتہ علی الکفر وسیأتی فی الجنائز التصریح بتحریم الدعاء للکافر بالمغفرۃ, نعم ان أراد اللہم اغفرلہ ان اسلم أو اراد بالدعاء لہ بالمغفرۃ أن یحصل لہ سببہ وھو الاسلام فلایتجہ الاالجواز سم علی المنہج وینبغی أن ذلک کلہ اذا لم یکن علی وجہ یشعر بالتعظیم والاامتنع خصوصاًاذا قویت القرینۃ علی تعظیمہ وتحقیر غیرہ کأن فعل فعلا دعا لہ بسببہ ولم یقم بہ غیرہ من المسلمین فأشعر بتحقیر ذلک الغیر

📖KITAB AL KAFII IMAM AHMAD

فصل: [غسل الكافر للمسلم]
ولا يصح غسل الكافر لمسلم لأن الغسل عبادة محضة فلا تصح من كافر كالصلاة ولا يجوز للمسلم أن يغسل كافرا وإن كان قريبه ولا يتولى دفنه إلا أن يخاف ضياعه فيواريه قال أبو حفص العكبري: يجوز ذلك وحكاه قولا لأحمد رضي الله عنه لما روي عن علي رضي الله عنه أنه قال: قال للنبي صلى الله عليه وسلم: إن عمك الشيخ الضال قد مات قال: [اذهب فواره] رواه أبو داود والنسائي ولنا أنه لا يصلي عليه فلم يكن له غسله كالأجنبي والخبر يدل على مواراته وله ذلك: لأنه يتغير بتركه ويتضرر ببقائه قال أحمد رضي الله عنه- في مسلم مات والده النصراني-: فليركب دابته وليسر أمام الجنازة وإذا أراد أن يدفن رجع مثل قول عمر رضي الله عنه.

📖mukhtashor al fiqh islami
.حكم غسل الكافر:  يحرم أن يُغَسِّل مسلم كافراً، أو يكفنه، أو يصلي عليه، أو يَتْبَع جنازته، أو يدفنه، بل يواريه بالتراب إذا عُدِمَ من يواريه من أقاربه، ولا يشرع لأقارب المشرك من المسلمين أن يَتْبَعوا جنازته.

📖- Al Mausu'ah al fiqhiyah Al Kuwaitiyah :

١٤ - اتفق الفقهاء على أنه لا يجب على المسلم تغسيل الكافر ، لأن الغسل وجب كرامة وتعظيما للميت ، والكافر ليس من أهل الكرامة والتعظيم .
وذهب الحنفية ، وهو قول لأحمد إلى جواز ذلك إذا كان الكافر الميت ذا رحم محرم من المسلم ، فيجوز عندهم تغسيله عند الاحتياج ، بأن لم يكن هناك من يقوم به من أهل دينه وملته ، فإن كان ، خلى المسلم بينه وبينهم .
والأصل في ذلك ما روي « عن علي رضي الله عنه لما مات أبوه أبو طالب ، جاء إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : يا رسول الله عمك الضال قد توفي ، فقال : اذهب واغسله وكفنه وواره » .
ومذهب الشافعية جواز تغسيل المسلمين وغيرهم للكافرين ، وأقاربه الكفار أحق به من أقاربه المسلمين .

وصرح المالكية ، وهو المذهب عند الحنابلة بأن المسلم لا يغسل الكافر مطلقا ، سواء أكان قريبا منه أم لم يكن .
وذهب المالكية والحنابلة إلى أنه ليس للمسلم غسل زوجته الكافرة لأن المسلم لا يغسل الكافر ولا يتولى دفنه ، ولأنه لا ميراث بينهما ولا موالاة ، وقد انقطعت الزوجية بالموت . وكذلك لا تغسله هي عند المالكية إلا إذا كانت بحضرة المسلمين . وعند الحنابلة مطلقا .
لأن النية واجبة في الغسل ، والكافر ليس من أهلها .
وعرف من مذهب الشافعية أن للزوج غسل زوجته المسلمة والذمية ، ولها غسله .
وأما عند الحنفية : فالمرأة لا تمنع من تغسيل زوجها بشرط بقاء الزوجية ولو كتابية .
وأما عكس ذلك فلا يتأتى عندهم في الأصح ، وعند أحمد في رواية ، لأنه ليس للزوج غسلها مطلقا كما سبق ( ف ١٣ ) .
تغسيل الكافر للمسلم :
١٥ - ذهب الحنفية والمالكية والشافعية في المخرج - مقابل الصحيح المنصوص - والحنابلة إلى أنه لا يصح تغسيل الكافر للمسلم ، لأن التغسيل عبادة ، والكافر ليس من أهلها ، فلا يصح تغسيله للمسلم كالمجنون . وأيضا فإن النية واجبة في الغسل والكافر ليس من أهلها . وفي الصحيح المنصوص عند الشافعية أن الكافر لو غسل مسلما فإنه يكفي .
هـ – تغسيل الرجال والنساء للأطفال الصغار وعكسه :

📖Imam Malik rahimahullah mengatakan:
Di dalam kitab
“” (al-Mudawanah, 1:261).
لا يغسل المسلم والده إذا مات الوالد كافرا , ولا يتبعه ، ولا يدخله قبره ، إلا أن يخشى أن يضيع : فيواريه



(Syarh Muntaha al-Iradat, 1:347).

ولا يغسّل مسلم كافرا  للنهي عن موالاة الكفار ، ولأن فيه تعظيما وتطهيرا له ، فلم يجز ؛ كالصلاة عليه


📖 (Kasyaful Qana’, 2:123).
ويحرم أن يغسل مسلم كافرا ، ولو قريبا ، أو يكفنه ، أو يصلي عليه ، أو يتبع جنازته ، أو يدفنه ) ؛ لقوله تعالى : ( يا أيها الذين آمنوا لا تتولوا قوما غضب الله عليهم ) وغَسلُهم ونحوه : تولٍّ لهم ، ولأنه تعظيم لهم ، وتطهير ؛ فأشبه الصلاة عليه … ( إلا أن لا يجد من يواريه غيره ، فيوارَى عند العدم )

📒Ihya ulumuddin juz 4 halaman 521
زيارة القبور مستحبة على الجملة للتذكر والاعتبار وزيارة قبور الصالحين مستحبة للترك مع الاعتبار وقد كان رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن زيارة القبور ثم أذن فى ذلك بعد روى عن على رضى الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: كنت نهيتكم عن زيارة القبور فزوروها فإنها تذكر الأخرة غير أن لا تقولوا هجرا وزار رسول الله صلى الله عليه وسلم قبرأمه فى الف مقنع فلم ير باكيا اكثر منه يومئذ وفى هذا اليوم قال اذن لى فى الزيارة دون الإستغفار

📖مغنى المحتاج ٢ صـ ٤٢

(وَ) يُعَزَّى الْمُسْلِمُ أَيْ يُقَالُ فِي تَعْزِيَتِهِ (بِالْكَافِرِ) الذِّمِّيِّ (أَعْظَمَ اللَّهُ أَجْرَكَ وَصَبَّرَكَ) وَأَخْلَفَ عَلَيْكَ أَوْ جَبَرَ مُصِيبَتَكَ أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ كَمَا فِي الرَّوْضَةِ كَأَصْلِهَا؛ لِأَنَّهُ اللَّائِقُ بِالْحَالِ.
قَالَ أَهْلُ اللُّغَةِ: إذَا اُحْتُمِلَ حُدُوثُ مِثْلِ الْمَيِّتِ أَوْ غَيْرِهِ مِنْ الْأَمْوَالِ، يُقَالُ أَخْلَفَ اللَّهُ عَلَيْكَ بِالْهَمْزِ؛ لِأَنَّ مَعْنَاهُ: رُدَّ عَلَيْكَ مِثْلُ مَا ذَهَبَ مِنْكَ وَإِلَّا خَلَّفَ عَلَيْكَ: أَيْ كَانَ اللَّهُ خَلِيفَةً عَلَيْكَ مِنْ فَقْدِهِ، وَلَا يَقُولُ وَغَفَرَ لِمَيِّتِكَ؛ لِأَنَّ الِاسْتِغْفَارَ لِلْكَافِرِ حَرَامٌ (وَ) يُعَزَّى (الْكَافِرُ) الْمُحْتَرَمُ جَوَازًا إلَّا إنْ رُجِيَ إسْلَامُهُ فَنَدْبًا: أَيْ يُقَالُ فِي تَعْزِيَتِهِ (بِالْمُسْلِمِ: غَفَرَ اللَّهُ لِمَيِّتِكَ وَأَحْسَنَ عَزَاءَكَ) وَقُدِّمَ الدُّعَاءُ لِلْمَيِّتِ فِي هَذَا؛ لِأَنَّهُ لِمُسْلِمٍ وَالْحَيُّ كَافِرٌ، وَلَا يُقَالُ أَعْظَمَ اللَّهُ أَجْرَكَ؛ لِأَنَّهُ لَا أَجْرَ لَهُ.
أَمَّا الْكَافِرُ غَيْرُ الْمُحْتَرَمِ مِنْ حَرْبِيٍّ أَوْ مُرْتَدٍّ كَمَا بَحَثَهُ الْأَذْرَعِيُّ فَلَا يُعَزَّى، وَهَلْ هُوَ حَرَامٌ أَوْ مَكْرُوهٌ؟ الظَّاهِرُ فِي الْمُهِمَّاتِ الْأُوَلُ، وَمُقْتَضَى كَلَامِ الشَّيْخِ أَبِي حَامِدٍ الثَّانِي وَهُوَ الظَّاهِرُ. هَذَا إنْ لَمْ يُرْجَ إسْلَامُهُ فَإِنْ رُجِيَ اُسْتُحِبَّتْ كَمَا يُؤْخَذُ مِنْ كَلَامِ السُّبْكِيّ وَلَا يُعَزَّى بِهِ أَيْضًا، وَلَمْ يَذْكُرْ الْمُصَنِّفُ تَعْزِيَةَ الْكَافِرِ بِالْكَافِرِ؛ لِأَنَّهَا غَيْرُ مُسْتَحَبَّةٍ، اقْتَضَاهُ كَلَامُ الشَّرْحِ وَالرَّوْضَةِ، بَلْ هِيَ جَائِزَةٌ إنْ لَمْ يُرْجَ إسْلَامُهُ كَمَا مَرَّتْ الْإِشَارَةُ إلَى ذَلِكَ وَإِنْ كَانَ قَضِيَّةُ كَلَامِ التَّنْبِيهِ اسْتِحْبَابَهَا مُطْلَقًا كَمَا نَبَّهْتُ عَلَى ذَلِكَ فِي شَرْحِهِ، وَصِيغَتُهَا: أَخْلَفَ اللَّهُ عَلَيْكَ وَلَا نَقَصَ عَدَدُكَ بِالنَّصْبِ وَالرَّفْعِ وَنَحْوَ ذَلِكَ؛ لِأَنَّ ذَلِكَ يَنْفَعُنَا فِي الدُّنْيَا بِكَثْرَةِ الْجِزْيَةِ وَفِي الْآخِرَةِ بِالْفِدَاءِ مِنْ النَّارِ. قَالَ فِي الْمَجْمُوعِ: وَهُوَ مُشْكِلٌ؛ لِأَنَّهُ دُعَاءٌ بِدَوَامِ الْكُفْرِ فَالْمُخْتَارُ تَرْكُهُ، وَمَنَعَهُ ابْنُ النَّقِيبِ بِأَنَّهُ لَيْسَ فِيهِ مَا يَقْتَضِي الْبَقَاءَ عَلَى الْكُفْرِ وَلَا يُحْتَاجُ إلَى تَأْوِيلِهِ بِتَكْثِيرِ الْجِزْيَةِ.






Wallahu a'lam

diskusihukumfiqh212.blogspot.com
hikmahdhf.blogspot.com